• Home
  • Berita & Update IBL
  • Dua IBL Legends yang Menginspirasi: Efektivitas Isman Thoyib & Perpisahan Sempurna Faisal Achmad

Dua IBL Legends yang Menginspirasi: Efektivitas Isman Thoyib & Perpisahan Sempurna Faisal Achmad

Dalam perjalanan panjang Indonesian Basketball League, terdapat sejumlah pemain yang namanya tercatat sebagai legenda karena kontribusi, konsistensi, dan nilai inspiratif yang mereka tinggalkan. Dua di antaranya adalah M. Isman Thoyib dan Faisal Julius Achmad. Meski berasal dari era berbeda, keduanya memberikan pelajaran penting tentang arti efektivitas, peran kecil yang berdampak besar, dan bagaimana menutup karier dengan elegan. Kisah mereka kembali relevan menjelang IBL 2026, ketika banyak pemain muda ingin membangun warisan serupa.

Sosok pertama, M. Isman Thoyib, dikenal sebagai pemain yang tidak pernah mengejar sorotan, tetapi justru selalu tampil efektif ketika dibutuhkan tim. Salah satu penampilan terbaiknya terjadi pada IBL musim 2017–2018 ketika membela Stapac Jakarta. Dalam laga menghadapi Satya Wacana Salatiga pada 2 Februari 2018 di GMC Arena, Cirebon, Thoyib masuk dari bangku cadangan di akhir kuarter pertama untuk menggantikan Ruslan. Tugas utamanya sederhana namun krusial: menjaga paint area dari serangan agresif Madarious Gibbs, salah satu pencetak poin terbanyak di liga saat itu.

Thoyib langsung membuktikan diri sebagai pemain yang dapat diandalkan. Dalam 9 menit 34 detik, ia mencetak tujuh poin, dua rebound, satu assist, dan satu block. Semua tembakannya akurat, mencatat 100% field goal (2/2) dan free throw sempurna (3/3). Efektivitas ini turut membantu Stapac menang telak 103–66, dan seluruh pemain berhasil menyumbang angka. Dari Thoyib, kita belajar bahwa kontribusi besar tidak selalu datang dari menit bermain panjang. Efisiensi, kesiapan mental, dan pemahaman peran adalah kunci mengapa ia layak menyandang status IBL Legends.

Sementara itu, nama Faisal Julius Achmad memiliki kisah yang berbeda namun sama menginspirasi. Faisal adalah contoh sempurna bagaimana seorang pemain dapat menutup karier profesionalnya dengan penuh kehormatan. Ia resmi pensiun setelah membawa Pelita Jaya meraih gelar juara IBL 2017 dalam partai final dramatis melawan Satria Muda. Pertandingan penentuan pada 7 Mei 2017 di Britama Arena Jakarta menjadi momen bersejarah, baik bagi klub maupun bagi Faisal sendiri.

Pada laga final tersebut, Faisal tampil 12 menit dengan kontribusi tiga poin, satu rebound, satu assist, dan satu turnover. Meski catatan statistiknya sederhana, kontribusinya tetap penting dalam menjaga ritme tim. Pelita Jaya tampil solid, mampu menahan tekanan dari para guard Satria Muda seperti Hardianus Lakudu dan Tyreek Jewell. Momen inilah yang kemudian menjadi titik akhir perjalanan Faisal sebagai pemain profesional sebelum ia bergabung dengan staf kepelatihan Pelita Jaya pada tahun-tahun berikutnya.

Perjalanan karier Faisal selama 18 tahun sangat panjang dan penuh prestasi. Ia pernah memperkuat beberapa klub besar seperti CSP, Kalila, Satria Muda, dan Pelita Jaya. Ia menjuarai liga delapan kali, meraih berbagai penghargaan individu termasuk MVP Allstar IBL 2008, MVP Allstar NBL 2012, Best Defense 2007, Best Assist 2011, serta menjadi bagian skuad timnas Indonesia yang meraih perak SEA Games 2007, perunggu SEA Games 2011, dan juara SEABA 2008. Semua ini menjadikannya salah satu pemain paling berprestasi dalam sejarah basket Indonesia.

Dua kisah ini menunjukkan bahwa warisan seorang pemain tidak hanya ditentukan oleh skor, durasi bermain, atau popularitas. Isman Thoyib mengajarkan arti efektivitas dan kesiapan menjalankan peran apa pun, sedangkan Faisal Achmad menunjukkan bagaimana menutup karier dengan elegan setelah memberi kontribusi nyata bagi klub dan negara. Dengan semakin berkembangnya IBL menjelang musim 2026, kisah-kisah legenda seperti mereka menjadi inspirasi berharga bagi generasi pemain berikutnya.

Berita